27 C
Kudus
7 July 2022
spot_img

Terungkap, Ini Alasan Singapura Deportasi UAS

Semarang, Kudusnews.id – Pada hari Selasa (17/05/2022) kemarin, ramai pemberitaan terkait Ustaz Abdul Somad (UAS) yang dideportasi dari Singapura.

Dalam sebuah wawancara di kanal YouTube HAI GUYS OFFICIAL, UAS sendiri meminta penjelasan mengapa dirinya dideportasi.

Berdasarkan penelusuran tim Jatengnews.id, Ministry of Home Affairs (Kementerian Dalam Negeri) Singapura kemudian memberikan respon dalam press releasenya di laman mha.gov.sg.

Dalam keterangan tersebut pihak MHA menyampaikan tiga poin terkait pertanyaan media pada Abdul Somad Batubara.

Yang pertama disampaikan, MHA mengonfirmasikan UAS tiba di Tanah Merah Ferry Terminal pada tanggal 16 Mei 2022 dari Batam dengan enam rekan perjalanannya.

“Somad was interviewed, following which the group was denied entry into Singapore and placed on a ferry back to Batam on the same day(Somad diwawancarai, yang kemudian kelompok tersebut ditolak kedatangannya masuk ke dalam Singapura dan dipulangkan dengan kapal ke Batam di hari yang sama),” kata MHA dalam keterangan tertulis.

Menurut mereka, UAS diketahui mengajarkan ektrimisme dan ajaran segregasi(pengucilan/pemisahan suatu golongan dari golongan lainnya), yang tidak bisa diterima oleh kalangan Singapura yang multi-ras dan multi-agama.

“For example, Somad has preached that suicide bombings are legitimate in the context of the Israel-Palestine conflict, and are considered “martyrdom” operations (Contohnya, Somad mengajarkan bom bunuh diri dilegitimasi dalam konteks konflik Israel-Palestina, dan dipertimbangkan sebagai operasi “martyrdom/syahid”),” sambungnya.

Dikatakan juga bahwa UAS memberikan komentar yang merendahkan komunitas kepercayaan yang lain seperti umat Kristiani.

“By describing the Christian crucifix as the dwelling place of an “infidel jinn (spirit/demon)”. In addition, Somad has publicly referred to non-Muslims as “kafirs” (infidels) (Dengan mendeskripsikan bahwa salib umat Kristiani sebagai tempat bersemayamnya “jin kafir”. Sebagai tambahan, Somad di depan umum merujuk non-Muslim sebagai kafir),” ungkapnya.

Lebih lanjut disampaikan bahwa masuknya pengunjung ke Singapura tidaklah secara otomatis. Setiap kasus akan dinilai berdasarkan kepantasannya tersendiri.

“While Somad had attempted to enter Singapore ostensibly for a social visit, the Singapore Government takes a serious view of any persons who advocate violence and/or espouse extremist and segregationist teachings. Somad and his travel companions were denied entry into Singapore. (Kendati Somad berusaha masuk Singapura ostensibly—seolah-olah untuk kunjungan sosial, Pemerintah Singapura mengambil pandangan serius untuk siapapun yang menganjurkan kekerasan dan/atau mendukung ektrimis dan ajaran segregasi. Somad dan rekan perjalanannya ditolak masuk ke Singapura),” pungkasnya. (Devan-03)

Related Articles

- Advertisement -spot_img