25.8 C
Kudus
24 February 2024
spot_img

Bappeda dan Unicef Garap Peningkatan Akses Pendidikan Anak Putus Sekolah di 4 Desa

Jepara, Kudusnews.id – Anak-anak putus sekolah di Kabupaten Jepara, akan diberdayakan agar bisa kembali ke sekolah atau mendapat bekal keterampilan sesuai dengan perkembangan teknologi. Pada tahap awal, empat desa di Jepara dijadikan sebagai pilot program.

Untuk menyukseskan program ini, Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian, dan Pengembangan Daerah (Bappeda) Kabupaten Jepara, berupaya semaksimal mungkin memberikan fasilitasi kepada badan penyelenggara, yakni United Nations Children’s Fund (Unicef) Indonesia.

Kepala Bidang Pemerintahan dan Pembangunan Manusia Bappeda Kabupaten Jepara, Natanael Hadisiswoyo, Kamis (9/9/2021) mengatakan, empat desa yang menjadi pilot project program ini adalah Desa Nalumsari (Kecamatan Nalumsari), Tegalsambi (Tahunan), Tubanan (Kembang) dan Tulakan (Donorojo). Ke depan, program ini diharapkan direplikasi oleh desa-desa lain, sehingga semua anak putus sekolah mendapat kesempatan kembali ke sekolah atau memperoleh keterampilan baru.

“Sebagai bagian dari pemerintah Indonesia di daerah, kami menyambut dan all out memfasilitasi kegiatan ini supaya sukses. Kemarin kami sudah ke desa untuk memastikan kesiapan desa dalam kegiatan ini,” kata Natanael di sela-sela kegiatan diskusi persiapan kegiatan dengan stake holders terkait di kantornya, Kamis (9/9/2021). Kegiatan ini akan berlanjut sehari berikutnya.

Direktur Unicef untuk Program Out of School Children (OOC) Jawa Tengah Jasman Indradno mengatakan, program pertama yang dilakukan adalah Gerakan Sekolah Meneh, atau gerakan kembali ke sekolah. Inti kegiatan ini adalah menemukan anak-anak yang tidak sekolah usia 7 sampai 18 tahun, dengan toleransi sampai 21 tahun. Mereka akan diberdayakan, lalu pada saatnya bersama-sama dikembalikan ke sekolah sesuai dengan spesifikasi satuan pendidikan yang diminati. Kegiatan ini akan dilakukan bersama-sama antara desa, fasilitator Unicef, dan tim kabupaten.

“Bahkan kalau sudah bekerja, perusahaan akan kami dekati agar memberi kesempatan mereka sekolah sambil bekerja di kelompok belajar (kejar) sesuai jenjang pendidikan yang belum diselesaikan,” katanya.

Kegiatan berikutnya adalah mendampingi anak rentan putus sekolah, termasuk akibat pandemi, supaya tidak sampai keluar sekolah. “Kita carikan beasiswa, orang tua asuh, atau upaya lain untuk mengatasi agar tidak putus sekolah,” kata Jasman.

Education officer Unicef Wilayah Surabaya, Yuanita M Nagel menambahkan, program berikutnya adalah Gerakan Remaja Hebat, yaitu upaya penyediaan platform untuk remaja belajar tentang keterampilan abad XXI di luar sekolah dan di luar internet.

Mereka juga akan diarahkan untuk membentuk jaringan desa dalam upaya membangun desa masing-masing. Setiap kelompok bisa beranggotakan hingga 40 remaja yang difasilitasi belajar bersama selama 6 bulan.

“Sebagai persiapan, kami sudah menyiapkan kurikulum pembekalan keterampilan ini. Kami juga sudah punya 8 fasilitator di 4 desa dan tambahan dua fasilitator tingkat kabupaten yang akan mendampingi remaja desa belajar,” kata Yuanita.  (Sumber Pemkab Jepara-03)

Related Articles

- Advertisement -spot_img